Rabu, 15 Januari 2014

PEMBEROKAN IKAN




(Sumber : http://www.bibitikan.net) 

Pemberokan adalah kegiatan pelemahan ikan dengan tidak memberikan pakan selama beberapa hari. Pemberokan merupakan proses pengosongan lambung/usus (pemuasaan) sehingga jumlah feses yang dikeluarkan dan metabolisme pencernaan ikan setelah dilakukan pemberokan akan berkurang. Pada prinsipnya pemberokan dilakukan untuk mengurangi atau meniadakan jumlah feses yang keluar, mengurangi metabolisme pencernaann dan menghilangkan atau mengurangi bau lumpur (geosmin).
Proses pemberokan dilakukaan pada saat:
Transportasi ikan
Sebelum pemijahan
Menghilangkan atau mengurangi bau lumpur
Menghilangkan atau mengurangi racun pada jenis kerang-kerangan
Pada saat pemberokan proses metabolisme yang terjadi yaitu:
Pada saat pemberokan proses metabolisme yang terjadi yaitu:
1.      Glukoneogenesis         : Protein → asam amino → glukosa → protein
2.      Glikolisis                     : Glikogen → glukosa → energi
3.      Lipolysis                     : lemak → keton → badan keton → energi
BACA SELENGKAPNYA »»  

Jumat, 03 Januari 2014

PENYAKIT TUBERCULOSIS PADA IKAN


Gambar. Ikan terserang penyakit Tuberculosis
(Sumber: http://www.koi-pond-guide.com)


Mycobacteriosis adalah penyakit subakut dan kronik, ditandai dengan terbentuknya granuloma. Penyakit ini umumnya terjadi pada ikan-ikan yang dipelihara pada akuarium dalam jangka waktu yang lama atau dibudidaya secara intensif.
Bakteri Mycobacterium marinum, M. fortuitum, M. chelonei adalah penyebab penyakit “Mycobacteriosis” pada ikan atau juga dikenal dengan “Fish Tuberculosis” dan “Piscine Tuberculosis”. Ketiga bakteri tersebut dikenal sebagai patogen pada ikan dan mempunyai gejala penyakit yang mirip. Bakteri Mycobacterium sp. dikenal ada dimana-mana dalam air dan sedimen serta telah diketahui menyerang berbagai jenis ikan laut dan tawar (167 spesies), baik ikan konsumsi, ikan hias, maupun udang galah serta semua udang penaeid. Ikan yang dipelihara dalam akuarium cenderung lebih besar kemungkinan terserang penyakit “Mycobacteriosis” dibanding ikan budidaya atau ikan liar.
Inang utama bakteri ini adalah jenis ikan air tawar seperti Gurame (Osphronemus gouramy), Cupang (Beta splendens), Katak lembu (Rana catesbeiana), Salmonidae, Gud (Gadus morchua), Karper (Cyprinus carpio), dan Gabus (Opiocephalus striatus). Mycobacterium marinum, M. fortuitum, M. chelonei dapat diidentifikasi melalui gejala klinis, isolasi dan identifikasi (morfologi, biokimia) dan molekuler.
Gejala klinis (eksternal)
Gejala klinis Mycobacteriosis pada ikan bervariasi, dan sering kali menyerupai gejala penyakit lain. Gejala klinis dapat dilihat pada ikan yang terserang pada stadia akut atau kronis, namun kadang kala tidak terlihat gejala klinis pada ikan yang terserang. Pada stadia kronis gejala klinis yang paling sering terlihat adalah ikan mengalami aneroksia (tidak mau makan, kurus, lesu, memisahkan diri dari yang lain dan mencari lubang untuk bersembunyi), lesi nodul di kulit, tukak (ulcer) dan hemoragi dapat terjadi mengikuti ruptula dari lasi urat. Gejala klinis tambahan berupa exophtalmus (mata yang menonjol), pembesaran perut dan lordosis, kerdil dan insang yang pucat. Kadang terjadi ekor dan sirip yang patah. Pigmentasi pada kulit juga berkurang kecerahannya. Bentuk akut jarang terjadi, tetapi gejala ini dicirikan oleh angka kesakitan dan kematian yang cepat.
Gejala internal
Lesi Mycobacteriosis dapat terjadi pada saluran pencernaan, atau pada kulit dan insang. Granuloma kecil dan putih sampai abu-abu dapat dilihat di bawah mikroskop atau secara kasat mata dapat ditemukan pada tiap organ tubuh. Granuloma itu dapat bersifat menyebar (terpisah), berkelompok atau perpaduan diantara keduanya. Dapat bersifat keras atau lunak dengan ukuran 80-500 μm dan nekrosis berbentuk menyerupai keju dapat terjadi di bagian tengahnya. Limpa, ginjal dan hati adalah organ yang paling sering terserang dan akan tampak membesar dan menjadi lebih lunak. Peritonitis dan edema juga dapat terjadi pada beberapa ikan yang berakibat pada organ viscera akan membengkak dan menyatu oleh adanya membran keputihan di sekitar daerah nekrosis tersebut dan yang meluas di mesenterium (selaput rongga perut).
Patogenesis
Patogenisis tuberculosis belum jelas, yang jelas adalah kerusakan organ dalam (ginjal, hati dan limpa membesar dan menjadi lunak), kurus dan kemudian mati. Secara normal, lesi terdapat pada kulit dan organ dalam. Dengan irisan histologi akan terlihat focal granuloma yang terdiri dari sel epiteloid dan makrofag, dengan ukuran antara 80-500 μm. Perkembangan penyakit “Mycobacteriosis” kronis sangat lambat, sehingga bakteri untuk dapat terdeteksi membutuhkan waktu sampai 2 tahun atau lebih. Apabila terjadi luka akan kehilangan protein plasma dan ikan sangat mudah terserang infeksi sekunder. Belum jelas apakah Mycobacterium memproduksi toksin. Ikan budidaya akan lebih sensitif terhadap infeksi karena stres oleh kepadatan yang tinggi.
Epidemiologi
Kejadian Mycobacterius pada ikan yang dipelihara di aquarium berkisar antara 10-22% sedang pada populasi ikan di alam 10-100% dapat terinfeksi. Wabah pada penyakit ikan yang dibudidayakan berkaitan dengan faktor  Borok pada ikan sepat yang terinfeksi bakteri Mycobacterium managemen seperti kualitas dan kuantitas air dan nutrisi yang kurang.
Penyebaran penyakit
“Mycobacteriosis” diketahui dapat terjadi baik horizontal maupun vertikal. Ikan yang memakan ikan yang terinfeksi, kontak dengan air dan feces dari ikan yang terinfeksi juga akan dapat tertular. Bakteri Mycobacterium sp. juga diketahui dapat ditransfer melalui telur ikan dari induk yang terinfeksi. Disamping itu infeksi Mycobacterium sp. Juga dapat terjadi melalui luka (termasuk akibat infeksi ektoparasit). “Mycobacteriosis” ikan di Indonesia ditemukan di Jawa, Sumatera, Bali dan Sulawesi utara menyerang banyak spesies air tawar dan laut khususnya ikan hias (akuarium). Pengobatan dan Pengendalian Kanamisin + Vitamin B-6 selama 30 hari adalah pengobatan yang paling efektif yang diketahui untuk TB. Ikan harus dikarantina selama masa pengobatan. vitamin dalam bentuk cair yang dapat ditemukan di toko obat setempat merupakan sumber yang baik vitamin B-6. Satu tetes per setiap 5 galon air akuarium. Ganti vitamin sesuai dengan berapa banyak air yang berubah di tangki selama waktu pengobatan.

Sumber:
INFOKARIKAN. Edisi 7 VOL. II Bulan Mei-Agustus 2010.
BACA SELENGKAPNYA »»  

Jumat, 20 Desember 2013

CARA MENDIAGNOSA PENYAKIT IKAN

 
Gambar. Diagnosis Ikan
(Sumber: http://aquariumprosmn.com)


Penyakit ikan adalah keadaan yang menunjukkan adanya suatu kelainan atau penyimpangan dari ikan yang normal baik dari respon refleks, warna tubuh ikan, tingkah laku ikan atau kelainan fungsi tubuh ikan. Untuk itu perlu diketahui penyebab dari ikan tersebut sakit atau sering disebut dengan diagnosa. Cara mendiagnosa penyakit ikan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1.         Patologi makro
Patologi makro yaitu dengan cara mempelari perubahan-perubahan yang terjadi di seluruh tubuh ikan dengan mata telanjang atau kasat mata baik dibagian luar tubuh ikan maupun bagian dalam tubuh ikan dengan cara dibedah yang dinamakan nekropsi (bedah ikan mati).
2.         Patologi mikro
Patologi mikro atau histopatologi yaitu dengan cara mempelari perubahan organ dalam ikan, jaringan atau sel dengan cara membuat preparat histologi dari organ tertentu yang diperiksa.
3.         Patologi faali
Patologi faali yaitu dengan cara mempelajari perubahan faali dari organisme pada waktu sakit. Misalnya dari ikan berenang, bernapas normal atau tidak.

BACA SELENGKAPNYA »»